kenalinegeri-kaoda-oda-dari-pulau-tomia

Sebagai orang yang lahir dan tinggal di Indonesia. Mungkin masih banyak hal-hal yang belum kita ketahui. Melalui #KenaliNegeri, coba kita ungkap kekayaan Nusantara melalui cerita. Kali ini datang dari Tomia, sebuah pulau di Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara.

Demi tujuan merapikan dan fokus membuat konten yang benilai, kali ini saya mencoba membuat branding melalui tagar #KenaliNegeri. Begitu banyak cerita dari Nusantara tercinta yang belum kita (dan saya sendiri) ketahui. Ibarat sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui. Sambil belajar, sambil menyajikan cerita indah dari tanah Nusantara. Baik melalui artikel, foto, dan video.

Untuk mengetahui lebih lanjut, silahkan menuju ruang khusus di #KenaliNegeri.


Bermain Kaoda Oda dari Pulau Tomia, Wakatobi.

https://www.youtube.com/watch?v=dWDaFziQcRo

Siang itu sudah berbaris rapi warga desa Patua Dua, pulau Tomia. Ternyata mereka sudah dikondisikan oleh tour organizer untuk menyambut rombongan tamu termasuk saya.

Setelah 4 jam menempuh perjalanan laut menggunakan kapal tradisional. Suguhan air kelapa muda dan masakan khas ibu-ibu desa Patua adalah nikmat dunia yang tak terelakkan.

Kaoda Oda, sebutan untuk Enggrang di pulau Tomia.

Paying Kaoda Oda
Kaoda Oda, sebutan untuk Enggrang di pulau Tomia.

Selesai menikmati hidangan yang sebagian besar bernuansa ikan. Munculah 3 pemuda memulai atraksi berjalan degan menggunakan bilah bambu yang sudah dirakit dengan pijakan kaki.

Berbagai tempat di Indonesia khususnya pulau Jawa, menyebut permainan tradisional ini bernama “Enggrang”. Namun di Tomia ini disebur Kaoda Oda. Dilihat dari bentuk dan cara memainkankannya, keduanya terlihat sama saja.

Konon kata warga setempat, Kaoda Oda dulu  memiliki fungsi lebih dari sekedar permainan tradisional. Yaitu sebagai pengganti alas kaki untuk melindungi telapak kaki dari tajamnya batu karang. Mengingat pulau Tomia adalah pulau kecil yang memiliki struktur tanah bercampur batu karang.

Menapaki tangga batu menggunakan Kaoda Oda. Difficulty Level = Very Hard

Paying Kaoda Oda
Menapaki tangga batu menggunakan Kaoda Oda. Difficulty Level = Very Hard

Tapi itu dulu, sekarang mungkin bukanlah hal yang lucu jika hendak bepergian dari rumah ke pasar harus menggunakan Kaoda Oda. Apalagi sekarang sudah ditemukan teknologi bernama sandal dan sepatu.

Sekarang Kaoda Oda murni digunakan sebagai permainan tradisional. Baik dalam rangka lomba 17an, atau atraksi menyambut wisatawan. Khususnya wisatawan asing.

Si Putri yang pantang menyerah menaklukkan Kaoda Oda

Paying Kaoda Oda
Si Putri yang pantang menyerah menaklukkan Kaoda Oda.

Kelihatannya memang gampang sih bermain Kaoda Oda. Tetapi kalau belum pernah, pasti terasa sulit juga. Seperti yang dirasakan Putri, rekan saya yang berulang kali mencoba dan berulang kali gagal juga.

Silahkan like, comment dan subscribe Youtube channelnya juga ya 🙂 Terimakasih.

0 Comments
Share
mencari-harta-karun-di-rammang-rammang

Tidak banyak orang tahu dibalik pegunungan kapur di Sulawesi Selatan, tersimpan harta karun yang tidak ternilai harganya. Tepatnya di Rammang Rammang, jajaran pegunungan karst yang berlokasi di Maros, Sulawesi Selatan. Lalu, ada harta karun apa sih sebenarnya disana?

Kebetulan, ada dua teman saya yang juga penasaran dengan harta karun tersebut. Mereka adalah Thiara (@thiaradev) dan Dandi (@dandiwidi). Sampai penasarannya, mereka dengan niat berdandan seperti pemburu harta karun di film Indiana Jones (bukan jomblo ngenes ya).

Untuk menjalankan misi kita, tujuan pertama yang harus dicapai adalah Desa Berua. Sebuah desa yang dikelilingi megahnya jajaran pegunungan karst. Desa Berua bisa diakses dari Dermaga Rammang Rammang. Sebuah dermaga wisata yang terletak sekitar 50 kilometer di timur laut kota Makassar, Sulawesi Selatan.

Oh ya, total ada 3 dermaga wisata yang terletak di Rammang Rammang. Perbedaan dari ketiga dermaga ini adalah panjang rute sungai menuju ke lokasi tujuan. Jangan bingung, semua rute sungai menyajikan panorama yang cakep kok. Kebetulan waktu itu kita memilih berangkat dari dermaga 2, karena dari dermaga 2 rute susur sungainya yang paling panjang.

Di dermaga 2 tersedia banyak perahu kecil yang siap mengantarkan kita menyusuri sungai Pute. Sungai yang menjadi akses utama menuju Desa Berua. Harga sewa perahu berkisar antara 200.000 – 400.000 untuk perjalaan pulang pergi, dan dapat dibayar di akhir perjalanan. Cukup murah bukan, apalagi untuk rombongan banyak. Satu perahu bisa ditumpangi antara 4-10 orang, tergantung ukurannya.

Tips : Bawalah topi untuk mengatasi panasnya sengatan matahari, khususnya di musik kemarau. Kamu juga bisa menyewa caping atau topi khas petani seharga 5.000 rupiah di persewaan dekat dermaga. Yakin deh, kamu bakal memerlukan itu.

Petualangan dimulai !! Sungai Pute yang berarti “putih” dalam bahasa Makassar memang menyajikan pengalaman yang sangat berbeda. Menyusuri sungai menggunakan perahu kecil, sembari melihat kokohnya tebing kapur yang seakan menghimpit di kanan kirimu. Dramatis.

Desa Berua

Rammang Rammang
Desa Berua. Sunyi sepi jauh dari hiruk pikuk perkotaan.

Tenyata dibalik kesan kering dan gersangnya bebatuan kapur ini tersimpan manfaat yang sangat besar lho. Salah satunya adalah karst sebagai tempat menyimpan air yang baik. Diperkirakan, setiap 1 meter kubik batuan karst dapat menyimpan cadangan air sebesar 200 liter.

Ini dikarenakan karst memiliki lapisan yang bernama epikarst. Epikarst berfungsi untuk mengalirkan air (hujan) sampai pada mata air dan sungai bawah tanah, yang pasti akan sangat beguna bila musim kemarau tiba. Berkat fungsi tersebut, kawasan karst menjadi salah satu tandon air terbesar di bumi.

Rammang Rammang
Tebing batuan karst. Spot favorit swa foto ala para pengunjung.

Jika diamati, Rammang Rammang memiliki kemiripan dengan pegungungan karst yang juga berada di Tsingy (Madagascar), Krabi (Thailand), Shilin (Tiongkok), Ha Long (Vietnam).

Rammang Rammang
Jajaran pegunungan karst diantara persawahan desa Berua.

Bukan itu saja, Rammang Rammang juga telah dinobatkan sebagai situs warisan dunia oleh UNESCO pada tahun 2001. Keren kan negara kita!. Ya namanya warisan, sudah pasti kita harus bisa panda menjaganya. Agar masih bisa diwariskan lagi kepada generasi-generasi kita berikutnya. Agar alam tidak rusak dan bumi tetap bisa tersenyum manis.

Rammang Rammang
Celah tebing karst yang sebagai mana fungsi utamanya yaitu sebagai tempat berteduh wisatawan.

Puas menjelajahi desa Berua dan pegungungan karst nya, kamu bisa pulang menggunakan perahu yang sudah disewa tadi. Sedikit saran nih ya, lebih baik kamu melakukan perjalanan pulang mendekati senja (tapi jagan sampai terlalu malam juga). Karena pada perjalanan pulang kita bisa menjumpai kunang kunang yang bercahaya berkumpul di pepohonan. Sebuah pemandangan yang sudah tidak mungkin lagi ditemukan di kota seperti Jakarta. Hahahahaha.

Bagaimana? Tertarik ber-eskapis ria ke Rammang Rammang?

0 Comments
Share
menjelajah-indahnya-wakatobi

Wow, like a dream come true. Beruntung banget di penghujung tahun 2017 saya berkesempatan pergi ke Wakatobi, GRATIS lagi. Mengapa? Karena menurut saya modal piknik ke Wakatobi cukup mahal, apalagi untuk ukuran kantong karyawan saya. Tidak heran jika kebanyakan yang mlancong kesana itu mayoritas bule dan orang yang berdompet tebal.

Kalo nama Wakatobi pasti sering kalian dengar. Tapi, dimana sih tepatnya lokasi Wakatobi itu? Itu tempat apaan sih sebenernya? Nah, saya juga baru mencari tahu pas mau jalan kesana.

Ternyata, Wakatobi itu sebuah kabupaten yang terdiri dari beberapa pulau. Wangi-wangi, Kaledupa, Tomia, dan Binongko, disingkat menjadi WAKATOBI. Akronim yang sangat efektif dan mudah diingat. Sebelumnya saya mengira Wakatobi hanya satu pulau.

Dan yang lebih seru adalah, kali ini saya berkesempatan untuk menjelajahi kelima pulau tersebut dalam satu rangkaian trip. Tuhan memang maha surprise, bisa aja nge-bikin saya bahagia. Alhamdulillah.

Wakatobi disebut-sebut sebagai surga bahari Indonesia. Karena terletak di segitiga karang terbaik di dunia. Alhasil, Wakatobi sangat dikenal oleh para penyelam mancanegara sebagai salah satu spot diving terbaik di dunia. Indonesia harus bangga punya Wakatobi.

WAKATOBI-pantai-kulati-02_whoisayiph
Salah satu pantai indah yang terdapat di desa Kulati | Photo : Putu Aditya Nugraha

Namun, dimana-mana yang namanya ‘surga’ itu butuh perjuangan ekstra untuk meraihnya. Tidak cukup 12 jam perjalanan dari Jakarta menuju Wangi-Wangi, pulau terbesar yang menjadi pusat dari Kabupaten Wakatobi. Sebenarnya perjalanan melalui udara jika ditotal hanya memerlukan waktu sekitar 4 jam saja. Dari Jakarta ke Kendari 3 jam, ditambah Kendari ke Wakatobi sekitar 45-60 menit. Namun karena jadwal penerbangan yang belum cukup banyak, ditambah lagi delay karena cuaca menjadikan jeda transit begitu terasa lama. Tapi, begitu sampai di Wangi-wangi, semua penantian itu bakal terbayar impas…pas…pas…hehehe.

Nah, apa saja sih aktivitas yang kalian bisa lakukan di Wakatobi?

Diving, Snorkeling, dan Berenang, yang pasti main air.

WAKATOBI_roma-reef-tomia_whoisayiph
Salah satu spot andalan kegiatan menyelam di Wakatobi | Photo : Putu Aditya Nugraha

Sebuah pemandangan yang menurut saya sangat breathtaking. Gugusan terumbu karang terlihat seperti konstelasi bintang di malam hari. Dari atas aja begitu cakepnya, apalagi kalo dilihat dari bawah laut ya?

WAKATOBI_spot-diving_whoisayiph
Siapa sih yang tidak ingin ikuk nyebur? | Photo : Putu Aditya Nugraha

Ngapain ke Wakatobi kalo enggak nyemplung? Mungkin tujuan banyak orang datang kesini adalah untuk mencoba salah satu spot menyelam terbaik di dunia. Banyak spot terumbu karang yang tersebar di Wakatobi, yang paling banyak mungkin di sekitar pulau Tomia. Seperti saya yang berkesempatan untuk menjajal Roma Reef yang terletak di sebelah barat pulau Tomia. Titik selam ini memiliki kedalaman sekitar 15-25 meter dengan visibility yang sangat bagus. Jadi kamu bisa dengan jelas melihat indahnya gugusan terumbu karang yang membentuk taman indah di bawah laut. Biota lautnya pun sangat beragam. Dari berbagai jenis ikan mulai dari clown fish atau ikan badut, sampai barakuda yang membentuk formasi barisan menawan. Kamu juga bisa berenang berdampingan dengan penyu yang lucu.

WAKATOBI_menyelam-bersama-penyu_rahman-kabuik
Asik kan, lebih mudah nyelam bareng penyu dari pada menyelami isi hatimu | Photo : Dive-Indonesia

Masih di sekitar pulau Tomia, terdapat pula titik selam yang tak kalah menarik seperti Cornucopia dan Coral Garden. Senada dengan namanya, titik selam ini memiliki berbagai macam biota laut yang menghiasi layaknya taman di bawah laut.

WAKATOBI_scuba-diving-roma-reef_rahman-kabuik
Wakatobi sudah terkenal sejak lama sebagai salah satu spot menyelam terbaik di dunia. | Foto : Dive-Indonesia

Bagi kamu yang belum memiliki lisensi menyelam jangan kuatir. Snorkeling aman dan ceria di perairan dangkal sudah cukup akan membuatmu berdecak kagum.

Belajar menenun di Kaledupa.

Bergeser ke pulau Kaledupa, atau pulau dengan tingkat kesuburan tanah tertinggi di Wakatobi. Berbeda dengan pulau-pulau lain, menurut saya Kaledupa memang terlihat lebih hijau. Dengan struktur tanah yang lebih gembur di bandingkan dengan tanah di pulau lain yang di dominasi batu karang.

Tenang ini bukan berantem beneran kok. Hanya pertunjukan seni bela diri silat khas Buton.

Beruntungnya saya, ketika baru sampai di Kaledupa saya langsung disambut atraksi seni bela diri yang diiringi oleh musik tradisional. Lalu mencicipi air kelapa muda sebelum berjalan kaki lumayan jauh menyusuri pedesaan menuju ke sentra produksi kain tenun. Memang mayoritas warga perempuan di Kaledupa, khususnya ibu-ibu mengisi kesehariannya dengan kegiatan menenun. Alat tenun yang mereka gunakan pun masih tradisional. Kalian juga bisa minta diajari lho. Memang terlihat susah di awal, tapi kalau sudah tahu caranya pasti sangat mengasyikkan.

WAKATOBI_tenun-buton-desa-pajam_whoisayiph
Mayoritas wanita dari Desa Pajam jago menenun, sepertinya ini tempat belajar yang cocok.

Pada umunya motif kain tenun tradisional Wakatobi dibagi menjadi dua, yaitu motif untuk laki-laki dan perempuan. Untuk laki-laki motifnya lebih ke kotak-kotak, dan untuk perempuan dibuat dengan motif garis-garis horizontal. Proses pengerjaan satu kain bisa berlangsung lama, memakan waktu kurang lebih satu bulan. Kamu pasti ga ada waktu untuk menyelesaikan satu kain. Tapi tenang, ada kakak-kakak cantik yang berjualan kain yang sudah jadi. Bebas pilih motif dan warna sesuka kamu, lalu bayar dengan harga kisaran Rp. 300.000,- sampai Rp. 500.000,-. Cocok untuk oleh-oleh emak dirumah. Hehehe.

Menjelajah hutan mangrove dengan menggunakan perahu.

Masih di pulau Kaledupa, setelah puas belajar menenun kamu bisa menuju dermaga untuk menjelajahi hutan mangrove dengan perahu. Perjalanan dari dermaga ke hutan mangrove memakan waktu sekitar 15-20 menit. Ditengah perjalanan kamu juga melewati pemukiman suku Bajo yang berdiri di atas air.

WAKATOBI_hutan-mangrove_whoisaiph
Suasana tenang dan sunyi akan terasa ketika kamu naik perahu menjelajahi hutan mangrove | Photo : Putu Aditya Nugraha

Hutan mangrove di Kaledupa ini cukup luas. Namun sayang ketika saya bertanya ke pemandu perjalanan, mereka tidak bisa menyebutkan berapa luas pastinya. Dikarenakan proses mapping nya belum selesai. Hehehe, jadi pokoknya luas deh. Sensasi tenang menyusuri rimbunnya hutan mangrove bisa menjadikan sarana relaksasi.

Menjelajah pantai cantik yang tidak ada habisnya.

Jika kamu pergi ke Wakatobi untuk mencari pantai, kamu sangat tidak salah tujuan. Karena setiap pulau di Wakatobi terdapat pantai yang memukau dan relatif sepi. Serasa pantai-pantai itu hanya menjadi milikmu.

WAKATOBI_pantai-kulati_whoisayiph
Pantai indah yang masih sangat sepi di Desa Kulati, serasa cuma punya kamu kalo main kesini | Photo : Putu Aditya Nugraha.

Berkunjung ke pemukiman Suku Bajo.

Nah, ini yang tidak kalah unik juga. Warga Bajo yang terkenal sebagai ‘manusia laut’, karena mereka menggantungkan hidupnya berdampingan dengan laut. Mulai dari mata pencaharian sebagai nelayan, sampai membangun pemukiman di atas laut.

WAKATOBI_pemukiman-suku-bajo-01_whoisayiph.jpg
Suku Bajo memang terkenal sudah menjadi satu dengan laut | Photo : Putu Aditya Nugraha

Tidak hanya satu, pemukiman suku Bajo tersebar di beberapa tempat di daerah Wakatobi. Untuk mengunjunginya, kamu dapat menyewa perahu kecil yang akan mengantarmu ke dermaga pemukiman suku Bajo.

WAKATOBI_pemukiman-suku-bajo_whoisayiph
Suku Bajo yang terbiasa menyatu dengan laut.

Sehari mengunjungi pemukiman suku Bajo, kamu akan merasakan keunikan yang tidak ada habisnya. Bagi saya, masyarkat suku Bajo lucu-lucu. Tercermin dari bahasa keseharian dan keramahan apabila dikunjungi oleh pendatang.

Mencicipi makanan restoran di atas karang.

Hari-hari terakhir di Wakatobi akan terasa berkesan bila kamu mampir sejenak ke spot kuliner satu ini. Namanya Wasabi NUA, ini sangat saya rekomendasikan buat kamu. Walaupun namanya identik dengan bahasa Jepang, tapi kamu bisa menemukan ikan bakar dengan bumbu khas Wakatobi. Cocok untuk mengisi perut di siang hari, atau ngobrol sambil menyeruput kopi di malam hari.

WAKATOBI_restoran-diatas-karang-wasabinua_whoisayiph
Tempat yang spesial untuk makan siang dan ngopi-ngopi cantik di Wakatobi.

Wasabi NUA bisa kamu temukan dengan panduan peta digital di bawah ini,

Menurut berita, Wakatobi termasuk 10 destinasi prioritas pemerintah dalam bidang pariwisata. Semoga kedepannya akses ke Wakatobi semakin mudah dan murah, sehingga terjangkau untuk semua lapisan masyarakat Indonesia. Khususnya untuk karyawan seperti saya, jadi bisa sering main-main deh ke Wakatobi.

Karena waktu efektif saya menjelajah Wakatobi hanya 6 hari, maka kegiatan diatas yang bisa saya ceritakan. Saya tunggu kamu untuk menjelajah Wakatobi dan menceritakan pengalaman seru lainnya dalam sudut pandangmu.

WAKATOBI_bocah-dermaga_whoisayiph
Kakak-kakak pembaca yang budiman, ditunggu bocah-bocah dari Wakatobi nih. Jadi, kapan mau main kesini?

“Traveling – it leaves you speechless, then turns you into a storyteller.” – Ibn Battuta

0 Comments
Share