kenalinegeri-kaoda-oda-dari-pulau-tomia

Sebagai orang yang lahir dan tinggal di Indonesia. Mungkin masih banyak hal-hal yang belum kita ketahui. Melalui #KenaliNegeri, coba kita ungkap kekayaan Nusantara melalui cerita. Kali ini datang dari Tomia, sebuah pulau di Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara.

Demi tujuan merapikan dan fokus membuat konten yang benilai, kali ini saya mencoba membuat branding melalui tagar #KenaliNegeri. Begitu banyak cerita dari Nusantara tercinta yang belum kita (dan saya sendiri) ketahui. Ibarat sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui. Sambil belajar, sambil menyajikan cerita indah dari tanah Nusantara. Baik melalui artikel, foto, dan video.

Untuk mengetahui lebih lanjut, silahkan menuju ruang khusus di #KenaliNegeri.


Bermain Kaoda Oda dari Pulau Tomia, Wakatobi.

https://www.youtube.com/watch?v=dWDaFziQcRo

Siang itu sudah berbaris rapi warga desa Patua Dua, pulau Tomia. Ternyata mereka sudah dikondisikan oleh tour organizer untuk menyambut rombongan tamu termasuk saya.

Setelah 4 jam menempuh perjalanan laut menggunakan kapal tradisional. Suguhan air kelapa muda dan masakan khas ibu-ibu desa Patua adalah nikmat dunia yang tak terelakkan.

Kaoda Oda, sebutan untuk Enggrang di pulau Tomia.

Paying Kaoda Oda
Kaoda Oda, sebutan untuk Enggrang di pulau Tomia.

Selesai menikmati hidangan yang sebagian besar bernuansa ikan. Munculah 3 pemuda memulai atraksi berjalan degan menggunakan bilah bambu yang sudah dirakit dengan pijakan kaki.

Berbagai tempat di Indonesia khususnya pulau Jawa, menyebut permainan tradisional ini bernama “Enggrang”. Namun di Tomia ini disebur Kaoda Oda. Dilihat dari bentuk dan cara memainkankannya, keduanya terlihat sama saja.

Konon kata warga setempat, Kaoda Oda dulu  memiliki fungsi lebih dari sekedar permainan tradisional. Yaitu sebagai pengganti alas kaki untuk melindungi telapak kaki dari tajamnya batu karang. Mengingat pulau Tomia adalah pulau kecil yang memiliki struktur tanah bercampur batu karang.

Menapaki tangga batu menggunakan Kaoda Oda. Difficulty Level = Very Hard

Paying Kaoda Oda
Menapaki tangga batu menggunakan Kaoda Oda. Difficulty Level = Very Hard

Tapi itu dulu, sekarang mungkin bukanlah hal yang lucu jika hendak bepergian dari rumah ke pasar harus menggunakan Kaoda Oda. Apalagi sekarang sudah ditemukan teknologi bernama sandal dan sepatu.

Sekarang Kaoda Oda murni digunakan sebagai permainan tradisional. Baik dalam rangka lomba 17an, atau atraksi menyambut wisatawan. Khususnya wisatawan asing.

Si Putri yang pantang menyerah menaklukkan Kaoda Oda

Paying Kaoda Oda
Si Putri yang pantang menyerah menaklukkan Kaoda Oda.

Kelihatannya memang gampang sih bermain Kaoda Oda. Tetapi kalau belum pernah, pasti terasa sulit juga. Seperti yang dirasakan Putri, rekan saya yang berulang kali mencoba dan berulang kali gagal juga.

Silahkan like, comment dan subscribe Youtube channelnya juga ya 🙂 Terimakasih.

0 Comments
Share
mencari-harta-karun-di-rammang-rammang

Tidak banyak orang tahu dibalik pegunungan kapur di Sulawesi Selatan, tersimpan harta karun yang tidak ternilai harganya. Tepatnya di Rammang Rammang, jajaran pegunungan karst yang berlokasi di Maros, Sulawesi Selatan. Lalu, ada harta karun apa sih sebenarnya disana?

Kebetulan, ada dua teman saya yang juga penasaran dengan harta karun tersebut. Mereka adalah Thiara (@thiaradev) dan Dandi (@dandiwidi). Sampai penasarannya, mereka dengan niat berdandan seperti pemburu harta karun di film Indiana Jones (bukan jomblo ngenes ya).

Untuk menjalankan misi kita, tujuan pertama yang harus dicapai adalah Desa Berua. Sebuah desa yang dikelilingi megahnya jajaran pegunungan karst. Desa Berua bisa diakses dari Dermaga Rammang Rammang. Sebuah dermaga wisata yang terletak sekitar 50 kilometer di timur laut kota Makassar, Sulawesi Selatan.

Oh ya, total ada 3 dermaga wisata yang terletak di Rammang Rammang. Perbedaan dari ketiga dermaga ini adalah panjang rute sungai menuju ke lokasi tujuan. Jangan bingung, semua rute sungai menyajikan panorama yang cakep kok. Kebetulan waktu itu kita memilih berangkat dari dermaga 2, karena dari dermaga 2 rute susur sungainya yang paling panjang.

Di dermaga 2 tersedia banyak perahu kecil yang siap mengantarkan kita menyusuri sungai Pute. Sungai yang menjadi akses utama menuju Desa Berua. Harga sewa perahu berkisar antara 200.000 – 400.000 untuk perjalaan pulang pergi, dan dapat dibayar di akhir perjalanan. Cukup murah bukan, apalagi untuk rombongan banyak. Satu perahu bisa ditumpangi antara 4-10 orang, tergantung ukurannya.

Tips : Bawalah topi untuk mengatasi panasnya sengatan matahari, khususnya di musik kemarau. Kamu juga bisa menyewa caping atau topi khas petani seharga 5.000 rupiah di persewaan dekat dermaga. Yakin deh, kamu bakal memerlukan itu.

Petualangan dimulai !! Sungai Pute yang berarti “putih” dalam bahasa Makassar memang menyajikan pengalaman yang sangat berbeda. Menyusuri sungai menggunakan perahu kecil, sembari melihat kokohnya tebing kapur yang seakan menghimpit di kanan kirimu. Dramatis.

Desa Berua

Rammang Rammang
Desa Berua. Sunyi sepi jauh dari hiruk pikuk perkotaan.

Tenyata dibalik kesan kering dan gersangnya bebatuan kapur ini tersimpan manfaat yang sangat besar lho. Salah satunya adalah karst sebagai tempat menyimpan air yang baik. Diperkirakan, setiap 1 meter kubik batuan karst dapat menyimpan cadangan air sebesar 200 liter.

Ini dikarenakan karst memiliki lapisan yang bernama epikarst. Epikarst berfungsi untuk mengalirkan air (hujan) sampai pada mata air dan sungai bawah tanah, yang pasti akan sangat beguna bila musim kemarau tiba. Berkat fungsi tersebut, kawasan karst menjadi salah satu tandon air terbesar di bumi.

Rammang Rammang
Tebing batuan karst. Spot favorit swa foto ala para pengunjung.

Jika diamati, Rammang Rammang memiliki kemiripan dengan pegungungan karst yang juga berada di Tsingy (Madagascar), Krabi (Thailand), Shilin (Tiongkok), Ha Long (Vietnam).

Rammang Rammang
Jajaran pegunungan karst diantara persawahan desa Berua.

Bukan itu saja, Rammang Rammang juga telah dinobatkan sebagai situs warisan dunia oleh UNESCO pada tahun 2001. Keren kan negara kita!. Ya namanya warisan, sudah pasti kita harus bisa panda menjaganya. Agar masih bisa diwariskan lagi kepada generasi-generasi kita berikutnya. Agar alam tidak rusak dan bumi tetap bisa tersenyum manis.

Rammang Rammang
Celah tebing karst yang sebagai mana fungsi utamanya yaitu sebagai tempat berteduh wisatawan.

Puas menjelajahi desa Berua dan pegungungan karst nya, kamu bisa pulang menggunakan perahu yang sudah disewa tadi. Sedikit saran nih ya, lebih baik kamu melakukan perjalanan pulang mendekati senja (tapi jagan sampai terlalu malam juga). Karena pada perjalanan pulang kita bisa menjumpai kunang kunang yang bercahaya berkumpul di pepohonan. Sebuah pemandangan yang sudah tidak mungkin lagi ditemukan di kota seperti Jakarta. Hahahahaha.

Bagaimana? Tertarik ber-eskapis ria ke Rammang Rammang?

0 Comments
Share
morning-hunting-mawar-camping-ground

Semua foto pada postingan ini saya ambil dengan menggunakan kamera smartphone merek Xiamoi MiA1 dan diproses menggunakan VSCO KK Filter.

Sebelum ngoceh panjang lebar, alangkah baiknya saya mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri dahulu. Sembari meminta maaf lahir dan batin jika ada untaian kata tidak menyenangkan yang sempat terucap baik dalam lisan maupun tulisan. Semoga kelak kita menjadi manusia yang lebih baik dimasa mendatang.

Mengheningkan cipta dimulai….. amin.

Pagi itu kami bergegas menuju ke sebuah tempat yang dikenal dengan Mawar Camping Ground. Sebuah camping point di kaki gunung Ungaran, Jawa Tengah. Memanfaatkan sisa libur lebaran, saya bersama dua orang teman lama hendak bernostalgia dengan tempat yang terakhir kami kunjungi pada tahun 2014 silam. Sekedar mencari udara segar, sambil menyalurkan hobi fotografi kami.

Tak sengaja judulnya lumayan catchy menurut saya. Kedepan akan saya usahakan untuk meregulerkan kegiatan “Morning Hunting" ini. Tentunya dengan tempat dan tema yang berbeda beda.


Morning Hunting

Peace cannot be kept by force, it can only be achieved by understanding. 

– Albert Einstein

0 Comments
Share
sehari-menjelajahi-osaka

Setelah lebih dari 7 jam melayang di atas udara. Akhirnya terdengar juga suara pilot mengisyaratkan untuk posisi pendaratan kepada seluruh penumpang dan awak kabin. Dari celah jendela sudah terlihat Kansai International Airport yang seakan mengapung di atas air laut. Hentakan roda pesawat ke tanah, menimbulkan goncangan yang cukup kuat untuk membangunkan penumpang yang masih tertidur. “Yes, we arriving. Welcome to Japan”, ucap Yusuke. Nihonjin yang baru saya kenal sebelum pesawat terbang meninggalkan Kuala Lumpur. Osaka adalah kota yang berhasil saya singgahi saat pertama kali menginjakkan kaki di Jepang. Pengalaman pertama ribuan mil perjalanan jauh dari tempat tinggal. Oke, petualangan sudah dimulai. Tetapi karena waktu yang terbatas, saya hanya berkesempatan menjelajahi Osaka sehari saja.

Untuk yang pertama kali ke Jepang seperti saya, Osaka memang cocok sebagai kota perkenalan. Tidak seramai Tokyo, tapi banyak hal yang tak kalah seru juga untuk dijelajahi. Singkat kata banyak pengalaman baru yang kita bisa rasakan di Jepang. Untuk itu, saya coba merangkum cerita perjalanan menjelajahi Osaka dalam 24 jam.

Dimulai dengan,

Naik Kereta Pertama Kali di Jepang.

kereta haruka express
Haruka Express, ini kereta yang pertama kali saya tumpangi di Jepang.

Hampir saja saya mengalami nasib buruk, ketika tertahan di ruangan interogasi Imigrasi Bandara Kansai. Untungnya keberuntungan masih berada di pihak saya. Setelah lepas dari jeratan petugas imigrasi, tugas pertama yang harus di kerjakan adalah menuju kota Osaka. Ya, ini adalah pengalaman pertama kali naik kereta di Jepang.

Waktu itu saya membeli paketan tiket kereta Haruka Express rute Bandara-Osaka PP dan ICOCA dengan saldo 2000 YEN. Pertimbangannya adalah memang ICOCA akan sangat berguna sekali selama di Osaka. Kedua, bandara Kansai akan menjadi gerbang kepulangan dikemudian hari. Selain itu, jika beli sepaket, harga kereta Haruka PP jadi lebih murah dibanding ngecer.

Untuk yang berminat beli bisa mampir kesini.

Menginap di Guesthouse.

guesthouse_2
Atas nama pengiritan, mari kita masuk ke dalam. Doakan saya semoga di trip selanjutnya bisa memilih akomodasi yang lebih mevvah.

Setelah perjalanan dengan kereta Haruka Express selama hampir 50 menit, saya turun di stasiun Tennoji. Disambung dengan mengendarai kereta bawah tanah dari Tennoji menuju ke Namba. Setelah turun di stasiun Namba, berjalan kaki sebentar kurang lebih 15 menit (biasa, nyasar dulu dikit) menuju ke guesthouse yang sudah saya pesan.

Pengalaman pertama kali menginap di guesthouse adalah ketika berada di Singapura pada 2 hari sebelumnya. Tetapi guesthouse di Jepang ini menurut saya sangat futuristik. Semuanya bersih, dan tertata rapi. Akhirnya disini saya menemukan toilet yang penuh dengan tombol, seperti pada foto-foto di internet. Untungnya ada tempelan manual berbahasa Inggris, jadi tidak perlu bingung dengan aksara Jepang.

Jalan-Jalan Malam di Area Dotonbori – Shinsaibashi

Jembatan Dotonbori
Jembatan Dotonbori

Karena guesthouse yang saya naungi terletak dekat dengan pusat keramaian, maka tidak ada alasan untuk berlama-lama di sana. Setelah membersihkan diri dari kotoran yang menumpuk selama 2 hari. Segeralah kaki ini berjalan-jalan menyusuri keramaian jalan di area Dotombori.

Wisata malam disini terbilang sangat lengkap. Ada jembatan yang membentang diatas sungai Dotonbori yang ikonik. Dihiasi gemerlap cahaya LED yang menempel rapi di gedung-gedung pusat perbelanjaan. Cukup untuk berjalan-jalan sambil cuti mata menikmati keramaian kota. Terdapat juga tur menyusuri sungai Dotombori dengan perahu.

jembatan dotonbori
Papan LED Glico yang ikonik, banyak menarik perhatian wisatan untuk swafoto.

Parade streetfood yang menghiasi kanan kiri jalan juga menggoda untuk dicicipi. Tidak lengkap rasanya kalau tidak jajan takoyaki dan okonomiyaki di tempat asalnya. Sebetulnya menurut saya semua jajanan disini rasanya enak-enak. Tapi yang paling enak dan terkenal adalah yang antrinya panjang, apalagi panjang banget. Betah-betahin deh nunggu.

Terpisah bebebrapa blok dari pusat keramaian, terdapat gang-gang yang menjajakan hiburan malam bernuansa privat dan premium. Kalau dilihat dari luar ya, rata-rata hiburan yang disajikan khusus dewasa. Hi.. karena masih kecil, saya ngeloyor aja sambil mengamati petugas klab yang menawarkan paket hiburan di pinggir jalan.

Malam semakin larut, saat nya kembali ke penginapan untuk mengisi tenaga.

Nitip Tas di Stasiun Umeda

coin locker
Tas gede mu bisa dititipkan disini. Harganya mulai dari 300-600 YEN, tergantung seberapa besar ukurannya.

Setelah menyelesaikan sarapan dan ritual pagi yg lainnya. Waktunya check-out dan melanjutkan perjalanan. Tujuan pertama adalah stasiun Umeda, untuk menitipkan ransel yang agak besar di koin loker. Lalu lanjut menuju stasiun Osaka Castle.

Cukup masukkan koin pecahan 100 Yen sebanyak 3 kali kedalam lubang. Tutup pintu dan putar kunci, kemudian simpan kunci di tempat yang sangat aman. Jangan sampai hilang ya, bisa jadi perkara nanti.

coin locker_2
Jangan sampai kelupaan menyimpan kuncinya dimana.

Jika tidak punya koin, bisa menukarkan uang kertas lembaran ke beberapa penjaga toko di sekitar koin loker. Pada beberapa mesin koin loker sudah dilengkapi dengan pemindai uang elektronik. Jadi bisa membayar dengan menggunakan ICOCA (atau SUICA/PASMO).

Beres dengan urusan per-ranselan, langsung naik kereta menuju ke,

Osaka Castle, Dulu Istana Sekarang Museum.

istana-osaka
Istana Osaka. Wajib mampir jika ke Osaka.

Entah kenapa jika di luar negeri saya seolah sok-sokan ingin main ke museum. Mungkin karena tiketnya murah atau bahkan gratis. Mungkin juga museum disana dikelola sedemikian rupa sehingga menjadi tempat yang sangat menarik. Seperti Osaka Castle, istana sekaligus benteng di masa lalu, yang kini telah beralih fungsi menjadi museum dan terbuka untuk umum.

Dengan membayar 600 YEN (atau dengan menunjukkan Osaka Amazing Pass), kita bisa masuk ke dalam bangunan utama. Pada bangunan utama kita bisa menyusuri setiap lantai yang berisikan koleksi bernuansa sejarah. Spot yang paling menarik adalah layar berukuran besar yang menyajikan tafsiran lukisan Perang Pengepungan Osaka. Lanjut terus sampai di lantai paling atas, area kota Osaka bisa kita dinikmati dari ketinggian.

Ternyata berkeliling area Osaka Castle cukup membuat lelah. Untungnya banyak lapak pedagang yang siap memenuhi hasrat kelaparanmu. Karena cuaca saat itu sedang panas-panasnya, kayaknya beli es krim enak deh.

matcha-ice-cream
Kore hitotsu (ini satu), sambil jari telunjuk mengarah ke sepucuk es krim matcha yang menggoda.

Enggan berleha-leha terlalu lama, saya membuka brosur Osaka Amazing Pass yang terselip di tas. Mungkin karena masa kecil kurang bahagia ya, entah mengapa kok kepingin naik bianglala ya? Tanpa pikir panjang saya mengambil rute kereta menuju ke,

Tempozan Feris Wheel

tempozan feris wheel
Yang masa kecilnya kurang bahagia jangan malu buat naik bianglala ini. Lumayan bisa lihat pemandangan kota dari ketinggian.

Jarak dari Osaka Castle ke Tempozan cukup jauh. Kawasan pelabuhan ini berada di pinggir laut, atau lebih dekat dengan Kansai International Airport. Kalau dibandingkan dengan kawasan pelabuhan di Indonesia, Tempozan terlihat jauh lebih rapi. Entah mengapa tidak tercium bau khas pelabuhan di tepian laut. Tapi tetap, banyak garam yang menempel pada kulit dan rambut.

Lingkaran besar yang menjulang di angkasa sudah terlihat walau dari kejauan. Tidak terlalu sulit menemukan bianglala ikonik tersebut.

Ternyata benar, mayoritas yang naik bianglala ini adalah rombongan keluarga beseta anak-anak mereka. Minimal ya pasangan muda romantis yang baru jadi-jadinya. Tentu saja kesendirianku ini pasti membuat aneh para gadis lucu penjaga bianglala. Walaupun mereka tetap tersenyum layaknya kepada pengunjung yang lainnya. Pasti dibelakang mereka mencibir (maafkan prasangka buruk saya).

Pemandangan kota pinggir laut yang rapih.

Dari atas pemandangannya asik. Kawasan gudang pinggir laut yang rapi dan bersih. Terlihat juga jembatan berwarna merah menyala yang menghubungkan dengan Bandara Kansai.

Jalanan Osaka yang ruwet tapi tidak macet.

Setelah turun dari Tempozan Feris Wheel, pada saat melewati pintu keluar saya ditawari sebuah cetakan foto. Ternyata itu adalah foto dengan gaya kampungan saya ketika diambil sebelum naik oleh gadis penjaga bianglala. Tentu saja saya tolak dengan halus, karena tidak tercover oleh Osaka Amazing Pass. Maaf nya mbak, bukan maksud melukai hatimu. Tetapi saya harus ngirit.

Puas kesampaian naik bianglala sambil mengamati Osaka dari udara. Kini saatnya mengarungi lautan menggunakan,

Santa Maria Cruise Ship

santa-maria-ship
Berlayar di sekitaran pantai Osaka. Foto : Pixabay

Lokasi dermaga berada tepat di belakang Tempozan Feris Wheel, berdekatan dengan Osaka Aquarium. Jadwal keberangkatan setiap sekitar 60 menit sekali, dengan biaya 1600 YEN (tercover Osaka Amazing Pass).

Replika kapal yang digunakan oleh Colombus untuk menjelajahi dunia ini, akan mengajak berputar-putar mengarungi pantai Osaka selama 50 menit. Tentu saja dengan bonus panduan perjalanan berbahasa Jepang gratis nonstop lagi, yang tersiar dari pengeras suara diatas kapal.

Untungnya arus air laut saat itu sangat tenang, jadi tidak sampai membuat orang-orang mabuk laut. Tentu saja merepotkan kru kebersihan kapal kalau itu sampai terjadi.

osaka red bridge
Dari replika kapal Santa Maria kita bisa melewati bagian bawah Osaka Red Bridge yang ikonik.

Matahari mulai memerah, tak terasa sore menjelang dan petang akan datang silih bergantian. Sebelum berganti malam, saatnya berpindah lokasi ke,

Umeda Sky Building

from umeda sky
Pemandangan kota Osaka menjelang senja.

Bangunan tertingi di Osaka ini memang menawarkan pemandangan senja yang memikat. Gedung-gedung pencakar langit yang tinggi menjulang, serta timelapse pergantian cahaya matahari dengan gemerlap lampu malam cocok bagi para pemburu foto.

Lokasinya tidak jauh dari stasiun Umeda dan dapat ditempuh sekitar 10 menit jalan kaki. Jika berniat mengunjungi Umeda Sky Building pada waktu menjelang senja. Kita bisa merasakan pengalaman berjalan kaki ditengah ramainya pada karyawan yang baru saja pulang dari kantor.

Setelah membayar biaya sebesar 1000 Yen, kita bisa menggunakan lift berkecepatan tinggi menuju puncak bangunan. Bangunan Umeda Sky Building ini terdiri dari 39 lantai dengan ketinggian total 173 meter dari atas tanah.

umeda-sky-view-1
Suasana kota Osaka selepas senja. Asik ya.

Oh iya, untuk mendapat pemandangan yang indah. Lebih baik datang lebih awal, karena semakin petang wisatawan pasti bertambah banyak. Tentu akan menyulitkan apabila ingin berburu foto yang ciamik.

Nah itu dia beberapa tempat yang sempat saya singgahi ketika berkunnjung di Osaka. Pastinya masih banyak lagi tempat menarik yang layak untuk dicoba di lain waktu. Jadi, mau kemana kalau kamu ke Osaka? Tulis di kolom komentar ya.

Terimakasih.

0 Comments
Share
berburu-harapan-di-jepang-cupid-japan

Tujuan pertama saya ketika di singgah di Kyoto adalah Kuil Kiyomizu-dera. Bukan tanpa sebab, jarak kuil dari penginapan hanya terpaut sekitar 2 kilometer, atau sekitar 15 menit jalan santai. Bisalah buat pemanasan otot kaki di pagi hari. Kuil yang merupakan tempat untuk memanjatkan doa dan harapan warga Kyoto, memang selalu ramai setiap hari.

Akses menuju kuil melewati jalan kecil di dalam gang, dan selanjutnya menanjak di kemiringan yang masih wajar. Memang kuil ini terletak di atas dataran tinggi. Ketika sampai atas, kita bisa melihat pemandangan kota Kyoto lengkap dengan Tower di tengahya dan perbukitan sebagai latar belakang.

kyoto-tower
Pemandangan Kota Kyoto lengkap dengan tower di tengahnya dari Kuil Kiyomizu-dera.

Kiyomizu-dera adalah spot yang sangat popular di Kyoto. Terletak di distrik Higashiyama, kuil ini menampilkan paduan antara arsitektur yang klasik dan panorama indah dari ketinggian. Selain itu, dapat ditemukan juga toko cindera mata lokal, air suci dan kemungkinan untuk menemukan cinta sejati. Ayo yang jomblo langsung merapat.

Dibalik megahnya bangunan utama Kiyomizu-dera, terdapat bangunan kuil yang lebih kecil bernama Jishu Shrine. Ternyata saya baru paham, bahwa Jishu Shrine sejatinya adalah tempat populer para pasangan untuk ehem-ehem. Maksudnya ehem-ehem untuk memastikan kesejatian cinta mereka berdua. Dengan cara berdoa dan saling mendoakan tentunya.

jishu-shrine-kyoto
Gerbang depan Jishu Shrine

Jishu Shrine sendiri adalah kuil yang dipersembahkan untuk dewa cinta dan kasih sayang yang abadi. Okuninushi no Mokoto. Disini ada berbagai cara untuk menemukan cinta sejatimu, penasaran?

Love Stone

love-stone
Batu bertuah yang dijuluki Love Stone

Didepan Jishu Shrine bisa ditemukan 2 batu cinta yang tergeletak di atas tanah. Cara mainnya adalah, kamu harus bisa berjalan dan menyentuh antara satu batu dengan yang lain dengan mata tertutup. Jika berhasil (tanpa curang), selamat deh. Berarti gebetan yang sedang kamu damba-damba itu kelak akan menjadi jodoh kamu. Tapi jika tidak berhasil, nah ini. Bisa jadi cinta kamu kepada pacar atau gebetan malah tidak jadi kesampaian. Hayo… serem mana jika dibanding nonton film horor?

Jika tantangan ini terlalu berat, tapi tetap ingin mencoba. Tenang, jangan putus asa. Kamu bisa minta tolong orang baik yang dikenal atau tidak, untuk membantumu. Kan tadi syaratnya tutup mata, telinga masih boleh dibuka kan berarti?

Lucky Charm

Jika cara pertama dirasa cukup berat, ada alternatif lain yang lebih relistis dan menjanjikan. Tapi ada harga yang harus dibayar, gak bisa gratisan.

lucky-charm
Jika cara pertama dirasa cukup berat, ada alternatif lain yang lebih relistis dan menjanjikan. Tapi ada harga yang harus dibayar, gak bisa gratisan.

Kita bisa membeli Lucky Charm yang dijual di toko tradisional sekitar kuil. Bukan cuma untuk urusan cinta melulu, tersedia juga untuk urusan akademis, bisnis, sampai panjang umur.

Pada saat berjalan keluar, terlihat papan yang berisikan nama-nama siapa saja yang berhasil dalam urusan cinta setelah memanjatkan harapan di Jishu Shrine. Sebagai ucapan terimakasih atas permohonan yang terkabul.

Waktu yang tepat untuk mengunjungi kuil ini adalah ketika musim semi dan gugur. Dimana warna-warna daun momiji yang indah mengelilingi kuil tersebut sebagai hiasan.

Jadi bagaimana? Siapkah untuk menemukan cinta sejatimu?

2 Comments
Share
part-1-berburu-ramalan-di-jepang-omikuji

Kamu percaya sama ramalan gak sih ?

Kalau saya sih tergantung. Jika ramalannya baik ya senyum-senyum, kalau ramalannya jelek ya disenyumin aja. Sambil berkata dalam hati,“yah namanya juga ramalan.”

Jika kamu berkunjung di kuil besar yang ada di negara Jepang, pasti akan bertemu dengan fortune teller atau tukang ramal. Dalam beberapa kepercayaan, masih dipercayai tentang ramalan yang akan menentukan masa depan. Baik ramalan baik dan buruk harus diantisipasi. Sebagai peringatan untuk menjaga perilaku kita nantinya. Katanya sih.

Omikuji
Omikuji yang tersimpan rapi di laci kuil. Sumber

O-mikuji (おみくじ) adalah kertas yang menceritakan ramalan kita di masa yang akan datang, ramalan ini biasanya berupa keberuntungan, karir di masa yang akan datang, keluarga, kesehatan, waktu yang tepat untuk bepergian, dan sebagainya.

Omikuji biasanya tersimpan dalam laci berbentuk kotak yang ada di kuil. Bisa diambil secara random dengan membayar kontribusi sebelumnya sebesar 200 Yen. Baru silahkan dibaca deh, bagaimana peruntungan kalian di masa depan.

Tapi bukan Jepang namanya kalo tidak ada yang unik ataupun nyeleneh. Seiring dengan perkembangan teknologi yang membantu menyederhanakan pekerjaan manusia. Sampai-sampai untuk urusan ramalan pun mereka bikin simpel. Ini buktinya…

vending-machine-mesin-ramalan
Karena terlalu kreatif, sampai-sampai ramalan saja dibuatkan mesin. Nice try.

Ini yang saya temukan sewaktu di Kinkakuji Temple. Fortune Teller yang dikemas dalam format vending machine. Entah sejak kapan mesin ini diciptakan, cuman sebagai orang awam, saya merasakan ada distorsi antara dua hal yang… ah entahlah. Intinya ini mereka ciptakan untuk menarik turis atau orang asing yang berkunjung ke kuil wisata. Dan ternyata berhasil, 100 Yen keluar dari kantong dan masuk ke dalam mesin berwarna oranye itu. Sambil senyam senyum heran, keluarlah kertas Omikuji di bagian bawah mesin.

Selain membuat penasaran, mesin tersebut juga impulsif. Setelah pergi meninggalkan mesin itu, saya melihat rombongan orang lain (dari luar Jepang) ikut-ikutan mencoba. Sungguh usaha yang bagus, ide yang cemerlang. Sederhana tapi efektif. Ya itulah…

Klasifikasi level keberuntungan Omikuji pada umumnya terbagi menjadi,

大吉     – Daikichi – Excellent luck (langsung pergi judi)

        – Kichi – Good luck

中吉     – Cyukichi – Fair luck

小吉     – Syokichi – A little luck

半吉     – Hankichi – Semi-good luck

末吉     – Suekichi – Uncertain luck

末小吉 – Suekokichi – Uncertain but a little luck

        – Kyou – Bad luck (Misfortune)

小凶     – Syokyou – A little misfortune

半凶     – Hankyou – Semi-misfortunate

末凶     – Suekyou – Uncertain misfortune

大凶     – Daikyou – Certain disaster (langsung beli asuransi)

Disamping itu, ada tingkatan keberuntungan yang lebih spesifik sesuai aspek kehidupan. Seperti bisnis, jodoh, kesehatan, dan lain sebagainya.

Intinya, kalo dapat ramalan yang bagus, pasti suruh dibawa pulang. Disimpan baik-baik agar keberuntungan selalu menyertai. Tapi bagaimana jika sebaliknya, Eskaper mendapat ramalan yang kurang bagus (banget). Tenang, tidak perlu khawatir. Apalagi sampai cemberut, jauh-jauh ke Jepang bukan untuk cemberut kan.

Jika mendapat ramalan yang kurang bagus, Omikuji tersebut dapat diikat pada pohon-pohon atau batang bambu yang sudah disediakan di dekat pilar kuil. Pada awal tahun nanti, tugas pendeta kuil yang akan melenyapkan nasib buruk kalian hingga menjadi abu hingga tak tersisa.

omikuji-tree
Tempat berkumpulnya para Omikuji yang ‘kurang beruntung’

Lalu bagaimana dengan nasib yang baru saya beli seharga 100Yen tadi ?

Karena sebenarnya saya tidak memercayai banget soal ramalan, Omikuji hanya tersimpan rapi sebagai kenangan di dompet. Sampai akhirnya tertarik menulis tentang Omikuji, dan terkuaklah nasib saya di masa mendatang (versi mesin vending Omikuji ya).

My Omikuji
Untungnya isi Omikuji yang saya beli seharga 100 Yen tadi cukup bisa buat senyum-senyum.

Alangkah bahagianya ketika sang naga naik ke langit setelah menyembunyikan dirinya di kedalaman untuk waktu yang lama. Segala sesuatu akan begitu menjanjikan, apabila kamu memiliki kemauan yang kuat.

Pemilihan kosakata dan rangkaian kata yang sangat menghibur, untuk kertas seharga 100 Yen. Terlepas dari kalimat retorika yang ditulis memenuhi kertas. Ini adalah contoh yang bagus, untuk mengkreatifkan hal yang bahkan sangat sederhana.

Selain Omikuji, ada beberapa metode lain untuk Berburu Harapan di Jepang : Cupid of Japan. So, sekarang apalagi yang kamu harapkan?

0 Comments
Share
menikmati-sore-di-odaiba

Jika kamu mengunjungi Tokyo, sempatkanlah mampir ke Odaiba barang setengah hari. Odaiba adalah pulau buatan yang terletak di sebelah timur Tokyo. Sama dengan namanya, Daiba yang berarti benteng, Odaiba awalnya dibangun sebagai pusat pertahanan dan perdagangan kota Tokyo pada tahun 1853. Seiring dengan perkembangan jaman, Odaiba terus direklamasi dan dibangun bangunan baru. Salah satunya untuk bisnis dan rekreasi.

Akses dari Tokyo ke Odaiba cukup mudah. Via kereta, coba mengarah ke stasiun Shimbashi (Yurikamome Line), dan langsung ambil tujuan Daiba. Jika kamu dari Asakusa, bisa mencoba water bus yang langsung menuju Odaiba Seaside Park.

Continue reading
2 Comments
Share
menjelajah-indahnya-wakatobi

Wow, like a dream come true. Beruntung banget di penghujung tahun 2017 saya berkesempatan pergi ke Wakatobi, GRATIS lagi. Mengapa? Karena menurut saya modal piknik ke Wakatobi cukup mahal, apalagi untuk ukuran kantong karyawan saya. Tidak heran jika kebanyakan yang mlancong kesana itu mayoritas bule dan orang yang berdompet tebal.

Kalo nama Wakatobi pasti sering kalian dengar. Tapi, dimana sih tepatnya lokasi Wakatobi itu? Itu tempat apaan sih sebenernya? Nah, saya juga baru mencari tahu pas mau jalan kesana.

Ternyata, Wakatobi itu sebuah kabupaten yang terdiri dari beberapa pulau. Wangi-wangi, Kaledupa, Tomia, dan Binongko, disingkat menjadi WAKATOBI. Akronim yang sangat efektif dan mudah diingat. Sebelumnya saya mengira Wakatobi hanya satu pulau.

Dan yang lebih seru adalah, kali ini saya berkesempatan untuk menjelajahi kelima pulau tersebut dalam satu rangkaian trip. Tuhan memang maha surprise, bisa aja nge-bikin saya bahagia. Alhamdulillah.

Wakatobi disebut-sebut sebagai surga bahari Indonesia. Karena terletak di segitiga karang terbaik di dunia. Alhasil, Wakatobi sangat dikenal oleh para penyelam mancanegara sebagai salah satu spot diving terbaik di dunia. Indonesia harus bangga punya Wakatobi.

WAKATOBI-pantai-kulati-02_whoisayiph
Salah satu pantai indah yang terdapat di desa Kulati | Photo : Putu Aditya Nugraha

Namun, dimana-mana yang namanya ‘surga’ itu butuh perjuangan ekstra untuk meraihnya. Tidak cukup 12 jam perjalanan dari Jakarta menuju Wangi-Wangi, pulau terbesar yang menjadi pusat dari Kabupaten Wakatobi. Sebenarnya perjalanan melalui udara jika ditotal hanya memerlukan waktu sekitar 4 jam saja. Dari Jakarta ke Kendari 3 jam, ditambah Kendari ke Wakatobi sekitar 45-60 menit. Namun karena jadwal penerbangan yang belum cukup banyak, ditambah lagi delay karena cuaca menjadikan jeda transit begitu terasa lama. Tapi, begitu sampai di Wangi-wangi, semua penantian itu bakal terbayar impas…pas…pas…hehehe.

Nah, apa saja sih aktivitas yang kalian bisa lakukan di Wakatobi?

Diving, Snorkeling, dan Berenang, yang pasti main air.

WAKATOBI_roma-reef-tomia_whoisayiph
Salah satu spot andalan kegiatan menyelam di Wakatobi | Photo : Putu Aditya Nugraha

Sebuah pemandangan yang menurut saya sangat breathtaking. Gugusan terumbu karang terlihat seperti konstelasi bintang di malam hari. Dari atas aja begitu cakepnya, apalagi kalo dilihat dari bawah laut ya?

WAKATOBI_spot-diving_whoisayiph
Siapa sih yang tidak ingin ikuk nyebur? | Photo : Putu Aditya Nugraha

Ngapain ke Wakatobi kalo enggak nyemplung? Mungkin tujuan banyak orang datang kesini adalah untuk mencoba salah satu spot menyelam terbaik di dunia. Banyak spot terumbu karang yang tersebar di Wakatobi, yang paling banyak mungkin di sekitar pulau Tomia. Seperti saya yang berkesempatan untuk menjajal Roma Reef yang terletak di sebelah barat pulau Tomia. Titik selam ini memiliki kedalaman sekitar 15-25 meter dengan visibility yang sangat bagus. Jadi kamu bisa dengan jelas melihat indahnya gugusan terumbu karang yang membentuk taman indah di bawah laut. Biota lautnya pun sangat beragam. Dari berbagai jenis ikan mulai dari clown fish atau ikan badut, sampai barakuda yang membentuk formasi barisan menawan. Kamu juga bisa berenang berdampingan dengan penyu yang lucu.

WAKATOBI_menyelam-bersama-penyu_rahman-kabuik
Asik kan, lebih mudah nyelam bareng penyu dari pada menyelami isi hatimu | Photo : Dive-Indonesia

Masih di sekitar pulau Tomia, terdapat pula titik selam yang tak kalah menarik seperti Cornucopia dan Coral Garden. Senada dengan namanya, titik selam ini memiliki berbagai macam biota laut yang menghiasi layaknya taman di bawah laut.

WAKATOBI_scuba-diving-roma-reef_rahman-kabuik
Wakatobi sudah terkenal sejak lama sebagai salah satu spot menyelam terbaik di dunia. | Foto : Dive-Indonesia

Bagi kamu yang belum memiliki lisensi menyelam jangan kuatir. Snorkeling aman dan ceria di perairan dangkal sudah cukup akan membuatmu berdecak kagum.

Belajar menenun di Kaledupa.

Bergeser ke pulau Kaledupa, atau pulau dengan tingkat kesuburan tanah tertinggi di Wakatobi. Berbeda dengan pulau-pulau lain, menurut saya Kaledupa memang terlihat lebih hijau. Dengan struktur tanah yang lebih gembur di bandingkan dengan tanah di pulau lain yang di dominasi batu karang.

Tenang ini bukan berantem beneran kok. Hanya pertunjukan seni bela diri silat khas Buton.

Beruntungnya saya, ketika baru sampai di Kaledupa saya langsung disambut atraksi seni bela diri yang diiringi oleh musik tradisional. Lalu mencicipi air kelapa muda sebelum berjalan kaki lumayan jauh menyusuri pedesaan menuju ke sentra produksi kain tenun. Memang mayoritas warga perempuan di Kaledupa, khususnya ibu-ibu mengisi kesehariannya dengan kegiatan menenun. Alat tenun yang mereka gunakan pun masih tradisional. Kalian juga bisa minta diajari lho. Memang terlihat susah di awal, tapi kalau sudah tahu caranya pasti sangat mengasyikkan.

WAKATOBI_tenun-buton-desa-pajam_whoisayiph
Mayoritas wanita dari Desa Pajam jago menenun, sepertinya ini tempat belajar yang cocok.

Pada umunya motif kain tenun tradisional Wakatobi dibagi menjadi dua, yaitu motif untuk laki-laki dan perempuan. Untuk laki-laki motifnya lebih ke kotak-kotak, dan untuk perempuan dibuat dengan motif garis-garis horizontal. Proses pengerjaan satu kain bisa berlangsung lama, memakan waktu kurang lebih satu bulan. Kamu pasti ga ada waktu untuk menyelesaikan satu kain. Tapi tenang, ada kakak-kakak cantik yang berjualan kain yang sudah jadi. Bebas pilih motif dan warna sesuka kamu, lalu bayar dengan harga kisaran Rp. 300.000,- sampai Rp. 500.000,-. Cocok untuk oleh-oleh emak dirumah. Hehehe.

Menjelajah hutan mangrove dengan menggunakan perahu.

Masih di pulau Kaledupa, setelah puas belajar menenun kamu bisa menuju dermaga untuk menjelajahi hutan mangrove dengan perahu. Perjalanan dari dermaga ke hutan mangrove memakan waktu sekitar 15-20 menit. Ditengah perjalanan kamu juga melewati pemukiman suku Bajo yang berdiri di atas air.

WAKATOBI_hutan-mangrove_whoisaiph
Suasana tenang dan sunyi akan terasa ketika kamu naik perahu menjelajahi hutan mangrove | Photo : Putu Aditya Nugraha

Hutan mangrove di Kaledupa ini cukup luas. Namun sayang ketika saya bertanya ke pemandu perjalanan, mereka tidak bisa menyebutkan berapa luas pastinya. Dikarenakan proses mapping nya belum selesai. Hehehe, jadi pokoknya luas deh. Sensasi tenang menyusuri rimbunnya hutan mangrove bisa menjadikan sarana relaksasi.

Menjelajah pantai cantik yang tidak ada habisnya.

Jika kamu pergi ke Wakatobi untuk mencari pantai, kamu sangat tidak salah tujuan. Karena setiap pulau di Wakatobi terdapat pantai yang memukau dan relatif sepi. Serasa pantai-pantai itu hanya menjadi milikmu.

WAKATOBI_pantai-kulati_whoisayiph
Pantai indah yang masih sangat sepi di Desa Kulati, serasa cuma punya kamu kalo main kesini | Photo : Putu Aditya Nugraha.

Berkunjung ke pemukiman Suku Bajo.

Nah, ini yang tidak kalah unik juga. Warga Bajo yang terkenal sebagai ‘manusia laut’, karena mereka menggantungkan hidupnya berdampingan dengan laut. Mulai dari mata pencaharian sebagai nelayan, sampai membangun pemukiman di atas laut.

WAKATOBI_pemukiman-suku-bajo-01_whoisayiph.jpg
Suku Bajo memang terkenal sudah menjadi satu dengan laut | Photo : Putu Aditya Nugraha

Tidak hanya satu, pemukiman suku Bajo tersebar di beberapa tempat di daerah Wakatobi. Untuk mengunjunginya, kamu dapat menyewa perahu kecil yang akan mengantarmu ke dermaga pemukiman suku Bajo.

WAKATOBI_pemukiman-suku-bajo_whoisayiph
Suku Bajo yang terbiasa menyatu dengan laut.

Sehari mengunjungi pemukiman suku Bajo, kamu akan merasakan keunikan yang tidak ada habisnya. Bagi saya, masyarkat suku Bajo lucu-lucu. Tercermin dari bahasa keseharian dan keramahan apabila dikunjungi oleh pendatang.

Mencicipi makanan restoran di atas karang.

Hari-hari terakhir di Wakatobi akan terasa berkesan bila kamu mampir sejenak ke spot kuliner satu ini. Namanya Wasabi NUA, ini sangat saya rekomendasikan buat kamu. Walaupun namanya identik dengan bahasa Jepang, tapi kamu bisa menemukan ikan bakar dengan bumbu khas Wakatobi. Cocok untuk mengisi perut di siang hari, atau ngobrol sambil menyeruput kopi di malam hari.

WAKATOBI_restoran-diatas-karang-wasabinua_whoisayiph
Tempat yang spesial untuk makan siang dan ngopi-ngopi cantik di Wakatobi.

Wasabi NUA bisa kamu temukan dengan panduan peta digital di bawah ini,

Menurut berita, Wakatobi termasuk 10 destinasi prioritas pemerintah dalam bidang pariwisata. Semoga kedepannya akses ke Wakatobi semakin mudah dan murah, sehingga terjangkau untuk semua lapisan masyarakat Indonesia. Khususnya untuk karyawan seperti saya, jadi bisa sering main-main deh ke Wakatobi.

Karena waktu efektif saya menjelajah Wakatobi hanya 6 hari, maka kegiatan diatas yang bisa saya ceritakan. Saya tunggu kamu untuk menjelajah Wakatobi dan menceritakan pengalaman seru lainnya dalam sudut pandangmu.

WAKATOBI_bocah-dermaga_whoisayiph
Kakak-kakak pembaca yang budiman, ditunggu bocah-bocah dari Wakatobi nih. Jadi, kapan mau main kesini?

“Traveling – it leaves you speechless, then turns you into a storyteller.” – Ibn Battuta

0 Comments
Share