berburu-harapan-di-jepang-cupid-japan

Tujuan pertama saya ketika di singgah di Kyoto adalah Kuil Kiyomizu-dera. Bukan tanpa sebab, jarak kuil dari penginapan hanya terpaut sekitar 2 kilometer, atau sekitar 15 menit jalan santai. Bisalah buat pemanasan otot kaki di pagi hari. Kuil yang merupakan tempat untuk memanjatkan doa dan harapan warga Kyoto, memang selalu ramai setiap hari.

Akses menuju kuil melewati jalan kecil di dalam gang, dan selanjutnya menanjak di kemiringan yang masih wajar. Memang kuil ini terletak di atas dataran tinggi. Ketika sampai atas, kita bisa melihat pemandangan kota Kyoto lengkap dengan Tower di tengahya dan perbukitan sebagai latar belakang.

kyoto-tower
Pemandangan Kota Kyoto lengkap dengan tower di tengahnya dari Kuil Kiyomizu-dera.

Kiyomizu-dera adalah spot yang sangat popular di Kyoto. Terletak di distrik Higashiyama, kuil ini menampilkan paduan antara arsitektur yang klasik dan panorama indah dari ketinggian. Selain itu, dapat ditemukan juga toko cindera mata lokal, air suci dan kemungkinan untuk menemukan cinta sejati. Ayo yang jomblo langsung merapat.

Dibalik megahnya bangunan utama Kiyomizu-dera, terdapat bangunan kuil yang lebih kecil bernama Jishu Shrine. Ternyata saya baru paham, bahwa Jishu Shrine sejatinya adalah tempat populer para pasangan untuk ehem-ehem. Maksudnya ehem-ehem untuk memastikan kesejatian cinta mereka berdua. Dengan cara berdoa dan saling mendoakan tentunya.

jishu-shrine-kyoto
Gerbang depan Jishu Shrine

Jishu Shrine sendiri adalah kuil yang dipersembahkan untuk dewa cinta dan kasih sayang yang abadi. Okuninushi no Mokoto. Disini ada berbagai cara untuk menemukan cinta sejatimu, penasaran?

Love Stone

love-stone
Batu bertuah yang dijuluki Love Stone

Didepan Jishu Shrine bisa ditemukan 2 batu cinta yang tergeletak di atas tanah. Cara mainnya adalah, kamu harus bisa berjalan dan menyentuh antara satu batu dengan yang lain dengan mata tertutup. Jika berhasil (tanpa curang), selamat deh. Berarti gebetan yang sedang kamu damba-damba itu kelak akan menjadi jodoh kamu. Tapi jika tidak berhasil, nah ini. Bisa jadi cinta kamu kepada pacar atau gebetan malah tidak jadi kesampaian. Hayo… serem mana jika dibanding nonton film horor?

Jika tantangan ini terlalu berat, tapi tetap ingin mencoba. Tenang, jangan putus asa. Kamu bisa minta tolong orang baik yang dikenal atau tidak, untuk membantumu. Kan tadi syaratnya tutup mata, telinga masih boleh dibuka kan berarti?

Lucky Charm

Jika cara pertama dirasa cukup berat, ada alternatif lain yang lebih relistis dan menjanjikan. Tapi ada harga yang harus dibayar, gak bisa gratisan.

lucky-charm
Jika cara pertama dirasa cukup berat, ada alternatif lain yang lebih relistis dan menjanjikan. Tapi ada harga yang harus dibayar, gak bisa gratisan.

Kita bisa membeli Lucky Charm yang dijual di toko tradisional sekitar kuil. Bukan cuma untuk urusan cinta melulu, tersedia juga untuk urusan akademis, bisnis, sampai panjang umur.

Pada saat berjalan keluar, terlihat papan yang berisikan nama-nama siapa saja yang berhasil dalam urusan cinta setelah memanjatkan harapan di Jishu Shrine. Sebagai ucapan terimakasih atas permohonan yang terkabul.

Waktu yang tepat untuk mengunjungi kuil ini adalah ketika musim semi dan gugur. Dimana warna-warna daun momiji yang indah mengelilingi kuil tersebut sebagai hiasan.

Jadi bagaimana? Siapkah untuk menemukan cinta sejatimu?

2 Comments
Share
part-1-berburu-ramalan-di-jepang-omikuji

Kamu percaya sama ramalan gak sih ?

Kalau saya sih tergantung. Jika ramalannya baik ya senyum-senyum, kalau ramalannya jelek ya disenyumin aja. Sambil berkata dalam hati,“yah namanya juga ramalan.”

Jika kamu berkunjung di kuil besar yang ada di negara Jepang, pasti akan bertemu dengan fortune teller atau tukang ramal. Dalam beberapa kepercayaan, masih dipercayai tentang ramalan yang akan menentukan masa depan. Baik ramalan baik dan buruk harus diantisipasi. Sebagai peringatan untuk menjaga perilaku kita nantinya. Katanya sih.

Omikuji
Omikuji yang tersimpan rapi di laci kuil. Sumber

O-mikuji (おみくじ) adalah kertas yang menceritakan ramalan kita di masa yang akan datang, ramalan ini biasanya berupa keberuntungan, karir di masa yang akan datang, keluarga, kesehatan, waktu yang tepat untuk bepergian, dan sebagainya.

Omikuji biasanya tersimpan dalam laci berbentuk kotak yang ada di kuil. Bisa diambil secara random dengan membayar kontribusi sebelumnya sebesar 200 Yen. Baru silahkan dibaca deh, bagaimana peruntungan kalian di masa depan.

Tapi bukan Jepang namanya kalo tidak ada yang unik ataupun nyeleneh. Seiring dengan perkembangan teknologi yang membantu menyederhanakan pekerjaan manusia. Sampai-sampai untuk urusan ramalan pun mereka bikin simpel. Ini buktinya…

vending-machine-mesin-ramalan
Karena terlalu kreatif, sampai-sampai ramalan saja dibuatkan mesin. Nice try.

Ini yang saya temukan sewaktu di Kinkakuji Temple. Fortune Teller yang dikemas dalam format vending machine. Entah sejak kapan mesin ini diciptakan, cuman sebagai orang awam, saya merasakan ada distorsi antara dua hal yang… ah entahlah. Intinya ini mereka ciptakan untuk menarik turis atau orang asing yang berkunjung ke kuil wisata. Dan ternyata berhasil, 100 Yen keluar dari kantong dan masuk ke dalam mesin berwarna oranye itu. Sambil senyam senyum heran, keluarlah kertas Omikuji di bagian bawah mesin.

Selain membuat penasaran, mesin tersebut juga impulsif. Setelah pergi meninggalkan mesin itu, saya melihat rombongan orang lain (dari luar Jepang) ikut-ikutan mencoba. Sungguh usaha yang bagus, ide yang cemerlang. Sederhana tapi efektif. Ya itulah…

Klasifikasi level keberuntungan Omikuji pada umumnya terbagi menjadi,

大吉     – Daikichi – Excellent luck (langsung pergi judi)

        – Kichi – Good luck

中吉     – Cyukichi – Fair luck

小吉     – Syokichi – A little luck

半吉     – Hankichi – Semi-good luck

末吉     – Suekichi – Uncertain luck

末小吉 – Suekokichi – Uncertain but a little luck

        – Kyou – Bad luck (Misfortune)

小凶     – Syokyou – A little misfortune

半凶     – Hankyou – Semi-misfortunate

末凶     – Suekyou – Uncertain misfortune

大凶     – Daikyou – Certain disaster (langsung beli asuransi)

Disamping itu, ada tingkatan keberuntungan yang lebih spesifik sesuai aspek kehidupan. Seperti bisnis, jodoh, kesehatan, dan lain sebagainya.

Intinya, kalo dapat ramalan yang bagus, pasti suruh dibawa pulang. Disimpan baik-baik agar keberuntungan selalu menyertai. Tapi bagaimana jika sebaliknya, Eskaper mendapat ramalan yang kurang bagus (banget). Tenang, tidak perlu khawatir. Apalagi sampai cemberut, jauh-jauh ke Jepang bukan untuk cemberut kan.

Jika mendapat ramalan yang kurang bagus, Omikuji tersebut dapat diikat pada pohon-pohon atau batang bambu yang sudah disediakan di dekat pilar kuil. Pada awal tahun nanti, tugas pendeta kuil yang akan melenyapkan nasib buruk kalian hingga menjadi abu hingga tak tersisa.

omikuji-tree
Tempat berkumpulnya para Omikuji yang ‘kurang beruntung’

Lalu bagaimana dengan nasib yang baru saya beli seharga 100Yen tadi ?

Karena sebenarnya saya tidak memercayai banget soal ramalan, Omikuji hanya tersimpan rapi sebagai kenangan di dompet. Sampai akhirnya tertarik menulis tentang Omikuji, dan terkuaklah nasib saya di masa mendatang (versi mesin vending Omikuji ya).

My Omikuji
Untungnya isi Omikuji yang saya beli seharga 100 Yen tadi cukup bisa buat senyum-senyum.

Alangkah bahagianya ketika sang naga naik ke langit setelah menyembunyikan dirinya di kedalaman untuk waktu yang lama. Segala sesuatu akan begitu menjanjikan, apabila kamu memiliki kemauan yang kuat.

Pemilihan kosakata dan rangkaian kata yang sangat menghibur, untuk kertas seharga 100 Yen. Terlepas dari kalimat retorika yang ditulis memenuhi kertas. Ini adalah contoh yang bagus, untuk mengkreatifkan hal yang bahkan sangat sederhana.

Selain Omikuji, ada beberapa metode lain untuk Berburu Harapan di Jepang : Cupid of Japan. So, sekarang apalagi yang kamu harapkan?

0 Comments
Share
8-destinasi-populer-di-kyoto

Walaupun hanya berjarak sekitar 40 kilometer dari Osaka, Kyoto memiliki atmosfir yang sangat berbeda dengan kota tetangganya. Kota yang pernah menjadi pusat pemerintahan Jepang di era lama itu nampak tidak sesibuk Osaka, apalagi Tokyo yang seakan tak pernah tidur. Kalo dilihat jalanan di sini lebih lengang, dan orang sini kelihatan santai-santai sih. Mungkin tekanan hidupnya lebih rendah daripada yang tinggal di kota besar.

Kyoto menjadi daya tarik sendiri untuk traveler yang hendak merasakan nuansa tradisional Jepang. Banyak kuil dan istana yang menyimpan sejarah Jepang di masa lalu. Hebatnya semua itu terawat dengan sangat baik dan tertata dengan sangat rapi untuk traveler yang hendak berkunjung.

Berikut destinasi populer Kyoto yang sempat saya kunjungi. Mungkin kamu juga tertarik,

Kiyomizu-dera

Seperti pada cerita saya sebelumnya. Saya kebetulan menginap di daerah Gojozaka, yang hanya berjarak sekitar 10 menit jalan kaki dari Kiyomizu-dera. Kuil ini termasuk yang paling populer dan ramai dikunjungi oleh wisatawan, bahkan pada hari-hari biasa. Akses kesana sangat mudah, cukup naik bus yang melewati halte Gojozaka. Ada papan arah kuil yang mengantar masuk melalui perkampungan warga dengan jalan menanjak.

Jalan menuju Kiyomizu-dera
Jalan menuju Kiyomizu-dera

Biasa, seperti jalan menuju tempat wisata pada umumnya. Banyak rumah warga yang disulap menjadi toko. Baik itu menyediakan makanan, cinderamata unik, dan juga Yukata. Persewaan yukata di Kyoto sangat laris, khususnya buat para cewek-cewek yang jalan sama cowok-cowok. Buat kenang-kenangan, lumayan bisa sekalian eksis di sosmed. Harga sewa yukata berkisar antara ¥5,000-¥25,000, sudah include jasa penataan rambut juga biasanya. Coba aja survey persewaan satu persatu, kalo mau irit nawar deh. Tapi pakai bahas Jepang ya biar cincay.

Gadis kecil yukata
Gadis kecil mengenakan Yukata

Untuk kamu yang mau prepare sewa yukata dari Indonesia juga ada lho. Jadi disana tidak perlu repot, langsung siap untuk eksis to the max. Mampir kesini aja.

Jalan menuju gerbang Kiyomizu-dera
Jalan menuju gerbang Kiyomizu-dera

Ini gerbang utama dari Kiyomizu-dera, identik dengan warna oranye yang menyala. Namun sayang ketika kesini sedang ada renovasi, jadi balkon main hall yang sangat famous itu tertutup rapat dengan kain proyek. Sebetulnya pihak manajemen dari Kiyomizu-dera sudah memberi tahu tentang renovasi ini di halaman resminya. Bisa jadi pelajaran nih, kalo besok-besok nyusun itinerary wajib riset sekomplit-komplitnya. Biar tidak kecewa waktu di tempat tujuan.

Kiyomizu-dera in renovation
Bangunan utama yang sedang direnovasi
pagoda-kiyomizu-dera
Pagoda Kiyomizu-dera

Menelusuri Kawasan Arashiyama

Sial. Lagi-lagi saya ketiduran di bus.

Seharusnya saya turun di halte samping stasiun Arashiyama, karena itu adalah spot yang paling dekat dengan banyak kawasan wisata. Namun karena pelor, saya tersesat jauh diantara pemukiman warga. Kalo dilihat dari maps melencengnya cuma sekitar 4 kilometer sih. Yasudah, sambil jalan kaki dinikmati saja.

Arashiyama sebenarnya masuk dalam destinasi favorit saya. Karena, banyak hal yang bisa difoto. Jadi perjalanan kaki sepanjang 4 kilometer, di tengah hari bolong, dan saat musim panas tidak terasa berat. Tapi ya, lumayan buat perut keroncongan juga sih. Mampir minimarket dulu deh, maklum ngirit. Belum diendorse… #eh.

Rumah sekitar Arashiyama
Rumah sekitar Arashiyama

Singkat kata sampailah di sekitar Tenryu-ji. Kuil ini adalah yang paling besar di Kyoto dan dinobatkan sebagai warisan dunia oleh UNESCO. Tapi saya kurang tertarik untuk masuk, jadi saya jalan-jalan saja area taman dan cari-cari apa yang bisa difoto.

Kuil di area Tenryu-ji
Kuil di area Tenryu-ji

Hutan Bambu Arashiyama

Jika kamu bertanya ‘enaknya kemana ya mbah kalo ke Kyoto’ sama eyang Google, pasti dia jawabnya ini. Walaupun sudah banyak diulas dan menjadi sangat populer di kalangan traveler dunia maya. Namun tetap saja hutan bambu Arashiyama sangat menarik minat untuk dikunjungi. Nggak tau ya, tapi asik aja gitu. Jalan-jalan ditengah rimbunnya batang bambu yang menjulang keatas. Serta tiupan angin yang menggoyang batang dan membuat daunnya saling bergesekkan menimbulkan suara yang menentramkan. Tepatnya bikin ngantuk sih.

Hutan bambu Arashiyama
Hutan bambu Arashiyama

Berita bagusnya adalah masuk kesini gratis. Silahkan deh kamu mau jalan-jalan bolak-balik beratus kali juga gapapa. Tapi area hutan bambu Arashiyama ini luas banget lho. Ga kasihan apa yang mau pergi kesini bawa gandengan. Bukannya kesan yang romantis didapat romantis, malah bibir manyun yang akan terlihat. Hehe…

Jangan sedih, kalo mau eksplor hutan bambu dan kawasan Arashiyama yang lain, ada mamang-mamang becak kok yang siap nganter keliling. Bukan becak sembarang becak, ini lebih keren. Namanya Rickshaw. Tapi lumayan mahal sih, tarifnya mulai dari ¥4000 untuk 30 menit. Ya demi ‘masa depanmu’ sendiri gapapa lah merogoh kocek agak dalam.

Tukang Rickshaw yang ramah.
Tukang Rickshaw yang ramah.

Berhubung kesana tidak pakai gandengan, saya memilih untuk jalan kaki saja. Tapi saya penasaran sama itu tukang Rickshaw. Mau narik becak saja dandanannya keren banget, punya ID Card lagi. Saya jadi penasaran bagaimana cerita dibalik penarik Rickshaw itu. Pasti menarik… #kepodeh.

Tapi serius, memang cocoknya kalau kamu kesini bawa gandengan. Soalnya banyak yang niat sampai nge-hire fotografer profesional dengan lensa 70-200 L series untuk sesi foto pra-nikah. Karena penasaran saya deketin aja. ‘Hadap ke kiri, tangan masnya digandeng, hidungnya ditutup, telinganya digigit…’, lah ternyata orang kita juga yang pecicilan pre-wed sampai sini. Boleh deh, kalo ada diantara kamu yang baca mau saya fotoin juga disini. wink

Jembatan Togetsukyo

Tidak jauh dari hutan bambu kamu bisa menemukan jembatan Togetsukyo yang old school banget. Jembatan ini menjadi landmark yang sangat ikonik di Arashiyama, karena dibelakanya ada bukit dengan pepohonan yang rimbun. Kalo lewat sini pas musim semi atau gugur pasti bakal sangat mengangumkan warnanya. Sayang saya kesana pas musim lagi panas-panasnya.

Togetsukyo Bridge
Jembatan Togetsukyo yang ikonik. Sumber

Kebetulan pas lagi jalan, saya melihat ada pasangan yang menurutku lucu sih (yang cewek lebih tepatnya). Jalan-jalan berdua pakai yukata gitu. Gara-gara gatel nih tangan pengen motret, saya samperin aja lalu minta ijin mau ga difoto. Eh, mau.. yaudah deh foto aja sambil kenalan. Lumayan bisa dijadiin buat bahan tulisan. Hehehe.

Disini sih asiknya solo backpacker menurut saya. Karena traveling solo bukan berarti kita ga bisa menikmati suatu destinasi sendirian. Mau ga mau biar makin asyik, kita dituntut untuk sekedar ngobrol sama sesama traveler lain. Yah, minimal biar ga bete lah jalan-jalan sendirian.

Yuka-Takoui
Yuka-Takoui. Ciye pacaran ciye…

Menyusuri Sungai Hozugawa

Dibawah jembatan Togetsukyo mengalirlah sungai Hozugawa. Menjelajahi sungai Hozu menggunakan perahu kecil bisa menjadi kegiatan yang menyenangkan juga. Secara kamu akan menelusuri sungai diantara bukit yang penuh dengan pepohonan rimbun.

hozugawa
Menyusuri sungai Hozugawa dengan perahu.

Sungai Hozugawa dulunya digunakan sebagai jalur pengiriman batang kayu untuk pembangunan kuil dan kastil di Osaka dan Kyoto. Dikarenakan sungai ini mengalir jauh dari pegunungan Arashiyama hingga ke pusat kota Kyoto. Juga jaman dahulu belum ada truk dan kereta logistik kali.

Untuk mengikuti tur sungai Hozugawa bisa menyiapkan uang ¥4,100. Bagusnya ikut tur sungai ini di bulan November-Desember, saat dedaunan berganti warna.

Hozu Tour
Hozugawa River Tour.

Kinkaku-ji

Ada banyak kuil indah di Kyoto, kalo mau didatengin semuanya mungkin nggak cukup waktu sebulan. Salah satunya adalah kuil Paviliun Emas atau Kinkaku-ji. Keunikannya dikarenakan 2 lantai teratas pada bangunan utama sepenuhnya dilapisi dengan kertas emas. Sinar matahari akan memperjelas warna emas ketika terpantul.

Kuil ini awalnya bernama Rukuonji, dibangun untuk tempat peristirahatan shogun Ashikaga Yoshimitshu. Berdasarkan wasiatnya, tempat ini berubah menjadi kuil zen untuk sekte Rinzai setelah shogun Asikaga Yoshimitsu meninggal.

kinkaku-ji
Kinkakuji, Paviliun Emas.

Bangunan utama Kinkaku-ji terletak di tengah danau dan dikelilingi pagar pembatas. Pengunjung tidak boleh masuk mendekat, hanya diperbolehkan melihat dari spot yang sudah disediakan di seberang. Sabar-sabar ya kalo mau foto dengan latar belakang Kinkaku-ji yang megah. Karena harus bergantian dengan pengunjung lain yang datang silih berganti. Disarankan juga membawa lensa agak tele jika ingin mendapat gambar detail dari depan.

Kinkaku-ji ini sebenarnya punya saingan, namanya Ginkaku-ji. Awas jangan sampai kebolak. Berbeda dengan Kinkaku-ji, Ginkaku-ji menggunakan lapisan kertas perak untuk menutupi dinding bangunannya. Serupa tak sama sih, coba saja buktikan kedua-duanya.

Ginkaku-ji
Ginkaku-ji, yang ini berlapis kertas perak. Sumber

Fushimi Inari Taisha

Menurut saya ini destinasi pamungkas yang menjadi alasan kenapa pengen banget ke Kyoto. Gimana enggak, ribuan torii (gerbang) yang tersusun rapi menuju bangunan utama di gunung Inari. Niat banget ya.

Coba tebak, torii sebanyak itu datangnya dari mana? Yang jelas bukan dari permintaan seorang gadis super cantik kepada seseorang pemuda biasa yang ingin meminangnya, seperti pada kisah Roro Jongrang. Torii sebanyak ini merupakan sumbangan baik dari perseorangan atau perusahaan yang senantiasa berdoa disini. Pada gerbang torii ada tulisan tentang siapa dan kapan torii ini disumbangkan.

Jangan ditanya ya? saya pun juga ga bisa bacanya.

inari-gate
Fushimi Inari Shrine Gate.

Selain jajaran ribuan torii yang very very instragramable, yang saya senangi ketika main kesini adalah warna oranye dimana mana. Orang-orang luar pada nyebutnya vermilion sih yang berarti ‘a brilliant red’. Kalo nanya anak seni rupa, makna vermilion kurang lebih mewakili semangat, berani, dan berkobar.

Untuk menuju Fushimi Inari Taisha sangat mudah, cukup naik kereta menuju stasiun JR Inari. Cuma ¥140 dan memakan waktu tempuh sekitar 5 menit jika berangkat dari Inari Station. Fushimi Inari selalu buka setiap hari, setiap jam dan tidak dipungut biaya. So, kenyang-kenyang dah keliling ke sana.

fushimi-inari
Vermilion Torii Tunnel Fushimi Inari Shrines.

Kawasan Gion

Penjelajahan di Kyoto saya tutup dengan mengunjungi kawasan Gion saat sore menjelang petang. Awalnya tertarik dengan sebuah kawasan di pinggir sungai yang ramai akan orang-orang. Tempatnya mirip seperti dalam komik atau film kartun Jepang. Ternyata memang warga sini gemar menghabiskan sore di tepian sungai. Ada yang piknik sambil gelar tiker dan makan, pacaran, olahraga, sampai ada yang belajar kelompok di pinggir kali.

Sungai Kamo
Warga Kyoto menikmati sore di pinggir Sungai Kamo.

Menjelang maghrib di dekat situ ada kawasan yang banyak terdapat tempat minum premium khas Jepang. Benar saja, banyak orang yang sudah berkumpul di depan salah satu tempat minum. Langsung saja saya ikut nimbrung, barangkali mau ada festival. Ternyata mereka sedang hunting Geisha yang lewat. Wah kebetulan, saya ikutan nyiapin kamera juga dong.

Geisha memang sosok yang spesial, terlebih di Kyoto dengan sebutan Maiko. Profesi Geisha adalah menghibur orang yang menyewanya, biasanya dilakukan sambil makan malam atau minum-minum. Tarifnya pun mahal, karena Geisha itu profesi yang tidak sembarangan. Geisha dituntut menguasai banyak kesenian tradisional. Ya wajar saja sih kalo tarifnya mahal.

geiko
Gini-gini cepet banget jalannya. Walaupun kelihatan ribet Kimononya.

Ketika ada Geisha lewat, orang-orang pada lari-lari menghampiri kayak wartawan yang ngejar tersangka kasus korupsi di KPK. Saking mereka ingin foto bareng sama Geisha. Ada papan aturan yang terpampang di kawasan itu. Boleh saja motret Geisha, yang tidak boleh adalah menghalangi jalan, menyentuh, atau bahkan sampai memaksa dengan kekerasan. Jadi saya sarankan bersabar, dan siapin lensa medium-tele cepat dengan respon AF yang yahud. Hehehehe.

Tapi kalo tetap saja tidak dapat bidikan yang bagus, ada kok yang jual foto Geisha dengan framming oke ukuran A4 yang berkeliling diantara para pengunjung. Tombo gelo kalo kata orang Jawa. Selain berburu Geisha, kuil Gion juga destinasi yang wajib kamu kunjungi kalo mampir kesini.

Distrik Gion
Distrik Gion

Nah itu dia tempat yang memorable buat saya ketika mengunjungi Kyoto. Mau tau dong kalo kamu favoritnya mana saja? Tulis di komentar ya…

0 Comments
Share